Makassar, lenteramerahnews.co.id — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh dosen muda Universitas Muhammadiyah Makassar. Seorang akademisi yang baru menyandang gelar doktor dan kini menjabat sebagai Lektor Kepala, berhasil menembus ketatnya seleksi pendanaan Hibah BIMA 2026 dalam program riset nasional.
Capaian ini bukan hal mudah. Secara nasional, sebanyak 104.546 proposal diajukan dalam skema Hibah BIMA 2026. Namun, hanya 18.215 proposal yang dinyatakan lolos, atau sekitar 17,4 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa seleksi berlangsung sangat kompetitif, dengan penilaian berbasis kualitas, kebaruan, dan dampak riset.
Keberhasilan dosen asal Kabupaten Pinrang ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademiknya. Selain sebagai capaian prestisius, hibah tersebut juga menjadi modal strategis untuk memenuhi persyaratan menuju jenjang Guru Besar.
Menariknya, riset yang diusung mengangkat tema yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan kota, yakni analisis geospasial deviasi arah kiblat masjid dalam perspektif pembangunan berkelanjutan (SDGs 11).
Penelitian ini menargetkan pemetaan tingkat penyimpangan arah kiblat pada masjid, khususnya di kawasan dengan pertumbuhan permukiman yang tidak teratur. Melalui pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG), riset ini akan menghasilkan peta tematik yang memuat data koordinat, azimut, serta tingkat deviasi arah kiblat secara akurat.
Tak hanya itu, validasi data akan dilakukan melalui pendekatan astronomis dan metode Istiwa’aini guna memastikan ketepatan hasil pengukuran di lapangan. Penelitian ini juga akan mengkaji keterkaitan antara pertumbuhan kota yang tidak terkendali dengan orientasi bangunan masjid, sehingga deviasi kiblat dipahami sebagai fenomena spasial, bukan semata persoalan teknis.
Sejumlah luaran strategis turut ditargetkan, mulai dari publikasi pada jurnal internasional bereputasi (Scopus), pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk model SOP verifikasi arah kiblat, hingga penyusunan buku saku dan rekomendasi praktis bagi pengurus masjid serta pemangku kebijakan.
Dengan demikian, hasil riset diharapkan tidak berhenti di ranah akademik, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata di tengah masyarakat.
Di lingkungan kampus, dosen muda ini juga dikenal aktif dalam penguatan tata kelola akademik. Ia saat ini menjabat sebagai Ketua Gugus Kendali Mutu Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar, posisi strategis dalam menjaga dan meningkatkan kualitas akademik serta budaya mutu di fakultas.
Menariknya, capaian ini diraih di usia yang relatif muda. Pada 21 April 2026 mendatang, ia genap berusia 31 tahun—sebuah fase produktif yang menunjukkan akselerasi signifikan dalam karier akademik dan kontribusi kelembagaan.
Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa riset ini berangkat dari realitas di lapangan, di mana masih banyak masjid dibangun mengikuti orientasi jalan atau kavling tanpa kajian arah kiblat yang presisi.
“Penelitian ini ingin menghadirkan perspektif baru bahwa arah kiblat bukan hanya persoalan ilmu falak, tetapi juga bagian dari tata kelola ruang dan pembangunan kota berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai dosen muda dari daerah, capaian ini sekaligus menjadi bukti bahwa kualitas riset tidak ditentukan oleh asal geografis, melainkan oleh kekuatan gagasan, konsistensi akademik, dan keberanian memanfaatkan peluang.
Ke depan, hibah ini diharapkan menjadi pijakan dalam membangun rekam jejak penelitian yang berkelanjutan, sekaligus mempercepat langkah menuju Guru Besar melalui kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu, khususnya pada irisan ilmu falak, teknologi geospasial, dan hukum Islam kontemporer. (*)

Posted by 

Emoticon