Oleh : Darwis Junudi
Sidrap, lenteramerahnews.co.id - Suara ikrar itu menggema lantang memenuhi arena PORSENIJAR PGRI Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2026 yang dipusatkan di Kabupaten Sidenreng Rappang. Setiap kata terucap tegas, penuh penghayatan, seolah bukan sekadar kalimat yang dibaca, tetapi janji suci yang lahir dari perjalanan panjang seorang pendidik.
Di hadapan dewan juri dan puluhan peserta dari 24 kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan, Zulkifli tampil penuh keyakinan. Ekspresi wajahnya tenang, intonasinya mantap, dan setiap bait ikrar guru yang diucapkannya mengandung makna yang begitu dalam. Tak heran jika akhirnya namanya diumumkan sebagai Peraih Terbaik I Lomba Pengucapan Ikrar Guru.
Bagi Kabupaten Sidenreng Rappang, kemenangan itu menjadi kebanggaan. Namun bagi Zulkifli, trofi tersebut hanyalah satu titik dari perjalanan panjang yang telah ditempuh dengan kesabaran, kegagalan, dan pengabdian.
Sedikit orang mengetahui bahwa sebelum berdiri sebagai kepala sekolah berprestasi dan juara tingkat provinsi, Zulkifli pernah menghabiskan hari-harinya menjaga pintu air.
Pada 2009 hingga 2013, ia bertugas sebagai Petugas Pintu Air (PPA) di Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Kabupaten Sidenreng Rappang. Tugasnya sederhana tetapi penuh tanggung jawab: mengatur aliran air agar sawah-sawah masyarakat tetap memperoleh pasokan yang adil.
Di tempat itulah ia belajar tentang disiplin, ketepatan waktu, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi dalam kehidupannya sebagai pendidik.
Namun, jauh di dalam hatinya, ada panggilan lain yang terus mengetuk. Ia ingin menjadi guru.
Tahun 2013 menjadi awal perjalanan baru ketika dirinya dipercaya menjadi guru honorer Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Pangsid. Dengan honor yang jauh dari kata besar, ia tetap mengajar dengan penuh semangat. Baginya, mendidik bukan sekadar pekerjaan, melainkan ibadah.
Di sekolah itu pula ia dipercaya membina Rohaniawan Islam (Rohis). Ia mendampingi siswa belajar agama, membentuk karakter, serta menanamkan nilai-nilai kejujuran, kepedulian, dan akhlak mulia.
Perjalanan menuju cita-citanya ternyata tidak mudah.
Saat mengikuti seleksi CPNS tahun 2015, ia gagal.
Kegagalan itu sempat menjadi ujian berat. Banyak orang mungkin memilih menyerah atau mencari jalan lain. Tetapi Zulkifli justru memilih tetap tinggal di ruang kelas.
Ia terus menjadi guru honorer. Ia terus mengajar. Ia terus belajar. Ia percaya bahwa kegagalan bukan akhir perjalanan.
Tiga tahun kemudian, keyakinan itu berbuah manis.
Pada seleksi CPNS Formasi Tahun 2018, ia dinyatakan lulus sebagai Guru Pendidikan Agama Islam dan ditempatkan di UPT SD Negeri 5 Benteng.
Baginya, pengangkatan sebagai ASN bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Dedikasi dan kerja kerasnya membuat kepercayaan terus datang.
Pada tahun 2023, ia dipercaya memimpin UPT SD Negeri 10 Benteng sebagai kepala sekolah.
Di bawah kepemimpinannya, sekolah berkembang melalui berbagai inovasi pembelajaran, penguatan karakter peserta didik, peningkatan budaya literasi, serta kolaborasi aktif dengan masyarakat.
Prestasi sekolah mulai bermunculan. Kepercayaan masyarakat meningkat.Inovasi terus lahir.
Kerja keras itu akhirnya mendapat pengakuan ketika pada Tahun 2024 ia meraih Juara Terbaik III Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Inovatif Kategori Kepala Sekolah SD Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan yang diselenggarakan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Sulawesi Selatan.
Namun penghargaan itu tidak membuatnya berhenti belajar.
Sebaliknya, ia semakin yakin bahwa guru harus terus bertumbuh.
Semangat itulah yang membawanya kembali mengharumkan nama Kabupaten Sidenreng Rappang pada PORSENIJAR PGRI Sulawesi Selatan Tahun 2026.
Saat mengucapkan ikrar guru, Zulkifli tidak sedang menghafal teks. Ia sedang menceritakan hidupnya sendiri. Tentang pengabdian. Tentang kesabaran. Tentang profesi guru yang baginya adalah panggilan hati. Di luar sekolah, pengabdiannya juga tidak pernah berhenti.
Suara azannya rutin berkumandang dari Masjid Agung Sidrap sebagai muadzin.
Di TPA Al-Istiqamah Masjid Agung Sidrap, ia mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur'an, membimbing mereka mengenal huruf demi huruf hingga mencintai kitab sucinya.
Baginya, pendidikan tidak mengenal batas ruang. Sekolah mendidik kecerdasan. Masjid menumbuhkan akhlak. Keduanya harus berjalan beriringan.
Kesibukan itu masih ditambah dengan amanah di berbagai organisasi. Ia dipercaya sebagai Ketua KKG PAI SD Kabupaten Sidenreng Rappang, Ketua I DPD BKPRMI Kabupaten Sidenreng Rappang, Wakil Ketua DPD AGPAII Kabupaten Sidenreng Rappang, serta aktif dalam berbagai organisasi pendidikan dan keagamaan lainnya.
Meski demikian, ia tetap dikenal sebagai sosok sederhana. Rendah hati. Mudah berdiskusi. Dekat dengan guru, siswa, maupun masyarakat.
Ketika ditanya mengenai keberhasilannya, ia tidak berbicara tentang dirinya. Ia justru menyebut nama banyak orang.
"Prestasi ini bukan milik saya seorang. Ini adalah hasil doa, dukungan, dan kebersamaan keluarga besar PGRI, rekan-rekan guru, para pembina, dan masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang. Saya hanya mewakili semangat para guru yang setiap hari mengabdi dengan penuh keikhlasan. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus belajar, berinovasi, dan menjaga kehormatan profesi guru demi kemajuan pendidikan."
Kalimat itu seolah menjadi penutup yang sempurna bagi perjalanan hidupnya.
Kisah Zulkifli mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang kepada mereka yang paling cepat.
Kadang, ia hadir kepada mereka yang paling sabar.
Kepada mereka yang tetap melangkah setelah gagal.
Kepada mereka yang tetap mengabdi meski belum mendapat penghargaan.
Dari seorang penjaga pintu air, menjadi guru honorer, pernah gagal menjadi CPNS, kemudian bangkit sebagai kepala sekolah berprestasi dan juara tingkat provinsi, perjalanan Zulkifli membuktikan satu hal:
Takdir terbaik sering kali datang kepada mereka yang tidak pernah berhenti berbuat baik.
Sebab pada akhirnya, prestasi terbesar seorang guru bukanlah piala yang tersimpan di lemari penghargaan.
Melainkan ilmu yang terus hidup, karakter yang terus diwariskan, dan inspirasi yang tumbuh dalam hati setiap anak didiknya.
Di sanalah, seorang guru sesungguhnya menjadi abadi. (Wis)

Posted by 

Emoticon