BLANTERVIO103

Jurnalis Senior Pasangkayu Berpulang, Ditemukan Meninggal di Kos-kosan

Jurnalis Senior Pasangkayu Berpulang, Ditemukan Meninggal di Kos-kosan
Senin, 07 September 2026

 


Pasangkayu.Lenteramerahnews.co.id.

Kabar duka menyelimuti kalangan jurnalis di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. 


Wiardam Mustafa, wartawan senior yang akrab disapa Uwe Dadang, ditemukan meninggal dunia  di tempat kontrakan/kos di Jalan Diponegoro, Dusun Kampung Tengah, Kelurahan Pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu, Minggu (6/9/2026). 


Setelah beberapa hari terakhir diketahui mengalami sakit, kepergiannya meninggalkan duka bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan-rekan seprofesi yang selama ini mengenalnya sebagai sosok senior, mudah bergaul, dan gemar bersilaturahmi dengan berbagai kalangan. 


Bagi sejumlah jurnalis di Pasangkayu, Uwe Dadang bukan sekadar rekan dalam menjalani profesi. 


Usianya yang lebih senior membuat almarhum kerap ditempatkan sebagai sosok orang tua, tempat berbagi cerita dan pengalaman. 


Kehadirannya selama ini juga lekat dengan pertemuan-pertemuan sederhana. 


Warung kopi menjadi salah satu tempat yang sering mempertemukannya dengan sesama jurnalis. Di tempat itu, pekerjaan, kabar daerah, cerita kehidupan, hingga candaan menjadi bagian dari percakapan. 


Tidak selalu harus ada urusan pekerjaan untuk membuat Uwe Dadang datang dan menyapa. Silaturahmi seolah menjadi bagian dari kesehariannya. 


Almarhum dikenal mudah akrab dengan berbagai kalangan. Ia tidak hanya bergaul dengan sesama wartawan, tetapi juga senang mengunjungi dan menyambangi orang-orang yang dikenalnya di Pasangkayu. 


Kebiasaan itulah yang membuat lingkar pertemanan Uwe Dadang begitu luas. Kepergiannya pun terasa sebagai kehilangan bagi orang-orang yang pernah berjumpa, berbincang, atau sekadar menerima sapaan darinya. 


Dalam beberapa hari terakhir, kondisi kesehatan almarhum memang diketahui menurun. Selain faktor usia, almarhum juga memiliki riwayat penyakit. 


Meski demikian, sakit tidak sepenuhnya menghentikan aktivitasnya. Ia masih berusaha menjalani keseharian dan bertemu dengan teman-teman yang selama ini dekat dengannya. 


Andi, salah satu kerabat almarhum, mengatakan sosok Uwe Dadang telah memiliki tempat khusus di kalangan jurnalis Pasangkayu. Hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun membuat almarhum tidak lagi dipandang sebatas senior dalam pekerjaan. 


“Bagi kami teman-teman jurnalis, beliau sudah kami anggap seperti orang tua sendiri. Beliau orangnya mudah akrab, senang bersilaturahmi, dan selalu berusaha menjaga hubungan dengan banyak orang. Karena itu, kepergian beliau bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi kami yang selama ini dekat dengan beliau,” kata Andi. 


Kenangan terhadap Uwe Dadang kini tersimpan dalam hal-hal yang sederhana. Obrolan di warkop, pertemuan di tengah kesibukan, sapaan ketika berpapasan, hingga kunjungan silaturahmi yang mungkin pada saat itu terasa biasa saja. 


Justru dari hal-hal sederhana itulah sosoknya akan terus dikenang. 


Bagi rekan-rekan seprofesinya, perjalanan sebagai jurnalis akan terus berlangsung. Berita tetap harus ditulis, peristiwa akan terus dicatat, dan pertemuan di warung kopi akan kembali terjadi. 


Namun, ada satu sosok yang tidak lagi berada di antara mereka. 


Satu kursi yang biasanya ditempati untuk berbincang kini kosong. Tidak ada lagi suara yang menyapa, cerita yang dibagikan, atau ajakan untuk sekadar duduk bersama. 


Yang tersisa adalah kenangan dan jejak silaturahmi yang selama hidupnya terus ia bangun. 


Almarhum Wiardam Mustafa atau Uwe Dadang kemudian dimakamkan di pemakaman Islam di Jalan Moh. Hatta, Kelurahan Pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu. 


Kepergiannya mengingatkan orang-orang yang mengenalnya bahwa terkadang yang paling lama tinggal setelah seseorang pergi bukanlah apa yang pernah ia katakan, melainkan hubungan baik yang ia tinggalkan pada banyak orang. (*)

Share This Article :

TAMBAHKAN KOMENTAR

3160458705819572409