BLANTERVIO103

Monyet dan Kera

Monyet dan Kera
Jumat, 02 Agustus 2019

JAKARTA, LENTERAMERAHNEWS-- Dahulu waktu saya masih kecil, di kampung saya, tanah Bugis, Sidrap, Sulawesi Selatan, orang-orang menyamakan arti nama “monyet” dengan kera atau orangutan, dalam bahasa Bugis disebut, “londak, lanceng, atau ceba.” Padahal dalam klasifikasi binatang, monyet itu beda dengan kera apalagi orang hutan.

Saya tertarik menulis “monyet” karena ia termasuk nama atau simbol fenomenal yang sering muncul di kalangan pengguna media sosial, baik untuk bercanda ataupun ketika keberatan atau marah. Panggilan “kera” di kalangan pemain bola dunia dinilai rasis, sangat dilarang keras. Sementara di beberapa tempat, kera adalah binatang peliharaan yang dapat menghasilkan uang banyak.

Di kampung saya hingga hari ini, hampir tidak ada orang yang hobi memelihara kera karena dinilai itu penghalang rejeki. Kera juga sering dijadikan simbol orang terkutuk karena malas. belajar dan bekerja. Jika ada anak-anak yang malas belajar atau sekolah, diancam akan dikutuk seperti kera. Sebaliknya, orang-orang yang berdomisili di kota-kota besar, seperti di Jakarta, sangat mudah menemukan pengamen jalanan yang menggunakan “modal kera” untuk mengumpulkan uang rece. Mereka melatih kera berakrobat, loncat sana-sini, menggunakan payung, motor-motoran, pakai kacamata, dan lain-lain, sifatnya lucu-lucuan, asyik ditonton, dan penonton pun rela mengeluarkan membuka dompetnya. Di Bali misalnya, ada satu lokasi wisata yang banyak sekali monyetnya, mungkin ada ratusan. Para turis berdatangan tiap hari, mendekat dan berfoto-ria dengan para monyet-monyet yang kadang jahil itu, membawa lari topi turis. Di kebun binatang seperti Ragunan, kandang monyet, kera, simpase, dan orangutan,  juga selalu menjadi titik idaman banyak pengunjung.

Dibandingkan dengan memelihara ular berbisa misalnya, monyet itu lebih aman dan jinak. Belum banyak berita, orang yang pelihara monyet, mati diterkam oleh monyetnya. Tapi berita, orang-orang meninggal karena dililit atau digigit oleh ularnya, sudah berulang kasusnya. 

Di kalangan keturunan Tionghoa, dikenal istilah “tahun dan shio monyet.” Monyet adalah urutan kesembilan dalam siklus 12 shio Cina. Shio monyet adalah mereka yang lahir pada tahun: 1920, 1932, 1944, 1956, 1968, 1980, 1992, 2004, 2016, 2028. Saya termasuk ber-shio monyet. Orang yang berzodiak monyet, dinilai sebagai pribadi yang selalu ceria dan energik secara alami dan biasanya mewakili fleksibilitas. Orang-orang ber-shio monyet itu bijaksana, cerdas, percaya diri, karismatik, setia, inventif, dan memiliki kepemimpinan. Kelemahannya, adalah egois, arogan, licik, gelisah, dan kadang sombong.

Karena itu, jika Anda ingin pelihara monyet dan sejenisnya, boleh-boleh saja, kendati mungkin harus menjaga dan mendapatkan ijin terlebih dahulu dari dinas kehutanan atau yang berwajib. Ubah mindset, monyet sebagai kambing hitam, penghalang rejeki tapi justru sumber rejeki. Tapi jangan sering pakai meme monyet di media sosial Anda, apalagi memanggil orang lain, panggilan monyet atau kera, nanti berurusan hukum, dan merusak pertemanan.(*)

(Tulisan ini dilansir dan dirujuk dari berbagai sumber oleh M. Saleh Mude, Kontributor Lentera Merah News, Jakarta.)  
Share This Article :

TAMBAHKAN KOMENTAR

3160458705819572409