BLANTERVIO103

Awal Ramadan 1447 H Boleh Berbeda, Persaudaraan Jangan Terbelah.

Awal Ramadan 1447 H Boleh Berbeda, Persaudaraan Jangan Terbelah.
Rabu, 11 Februari 2026

 


Menuju Kalender Hijriah Global: Mungkinkah Umat Islam Bersatu?


Oleh Dr. Mursyid Fikri, S.Pd.I.,MH

Ahli Falak Universitas Muhammadiyah Makassar.


Menjelang Ramadan 1447 H, ruang publik kembali ramai oleh perbincangan yang hampir selalu berulang setiap tahun: perbedaan penetapan awal puasa. Di sebagian masyarakat, perbedaan ini kadang dipahami sebagai ajang pembuktian “siapa yang paling benar”, padahal sesungguhnya ia lahir dari keragaman pendekatan ilmiah dan ijtihad dalam tradisi Islam. Yang lebih penting dari sekadar “mulai kapan” adalah bagaimana umat menyikapinya: apakah perbedaan menjadi pintu saling merendahkan, atau justru menjadi kesempatan untuk menunjukkan kedewasaan beragama


Perlu ditegaskan sejak awal bahwa penentuan awal Ramadan bukan sekadar urusan “tanggal di kalender”, melainkan pertemuan antara agama dan ilmu pengetahuan. Di sinilah pentingnya menonjolkan persamaan sebelum menyoroti perbedaan. Wujudul Hilal, MABIMS, maupun KHGT sama-sama berpijak pada ilmu falak/astronomi, sama-sama memperhitungkan ijtima’, dan sama-sama mengevaluasi posisi hilal terkait matahari terbenam (sunset/magrib) untuk menentukan awal bulan Hijriah. Jadi, perbedaan yang terjadi bukan pertarungan “ilmiah vs tidak ilmiah”, melainkan perbedaan jalur ijtihad di atas fondasi keilmuan yang sama, dengan tujuan yang sama pula: menghadirkan kepastian ibadah bagi umat.



Adapun perbedaannya terletak pada cakupan wilayah dan kriteria penetapan. Wujudul Hilal cenderung bersifat lokal/nasional (Hanya berlaku di Indonesia), dengan penekanan bahwa asal hilal sudah “wujud” di atas ufuk pada magrib setempat. MABIMS bersifat regional, menambahkan kriteria visibilitas tertentu agar hilal dinilai mungkin terlihat, bukan sekadar wujud. Sementara itu, KHGT mengusung prinsip global (satu matla’), sehingga ketika kriteria terpenuhi di suatu kawasan dunia, penanggalan diberlakukan secara lebih seragam lintas negara. Karena cakupan dan kriterianya berbeda, maka wajar jika hasil penetapan awal Ramadan kadang tidak sama


Namun yang patut kita jaga bukan sekadar keseragaman tanggal, melainkan persatuan hati dan adab. Ramadan adalah bulan pendidikan ruhani: menahan lapar, menahan amarah, dan menahan ego. Maka menjadi paradoks jika Ramadan justru membuka ruang saling sindir, saling menuduh, atau meremehkan keputusan pihak lain. Bila tujuan puasa adalah membangun takwa, maka salah satu tanda ketakwaan tampak dari cara kita menghormati perbedaan


Perbedaan awal Ramadan seharusnya menjadi ruang pembelajaran sosial dan spiritual. Kita belajar bahwa tradisi ilmu dalam Islam itu luas dan kaya; bahwa para ulama, ahli falak, dan otoritas keagamaan bekerja melalui proses serius baik dari sisi syar’i maupun saintifik. Kita juga belajar menjadi umat yang dewasa: mampu berkata, “Saya mengikuti keputusan ini, dan saya menghormati saudara saya yang mengikuti keputusan lain.” Persaudaraan justru diuji bukan saat semua seragam, tetapi saat perbedaan hadir nyata di tengah masyarakat.


Karena itu, mari merawat bahasa persatuan dalam percakapan kita. Hindari kalimat yang melukai seperti, “Puasa kalian tidak sah,” “Kalian tidak ilmiah,” atau “Kalian tidak sesuai sunnah.” Gantilah dengan bahasa yang mendidik: “Metodenya berbeda,” “Kita saling menghormati,” dan “Mari fokus pada ibadah.” Para tokoh agama, pendidik, dan pemimpin komunitas punya peran penting untuk menurunkan tensi, menjadi teladan kesejukan, serta mengajak umat kembali pada substansi Ramadan.


Pada akhirnya, Ramadan 1447 H adalah kesempatan besar untuk kembali pada inti: memperbaiki diri. Jika perbedaan awal puasa membuat kita sibuk bertengkar, maka kita kehilangan pesan Ramadan itu sendiri. Tetapi jika perbedaan ini membuat kita semakin bijak, semakin santun, dan semakin kuat menjaga ukhuwah, maka perbedaan tersebut justru menjadi berkah yang mendewasakan. Kita boleh memulai puasa pada hari yang berbeda, tetapi tetap satu dalam tujuan yang jauh lebih besar: menghidupkan shalat, memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, memuliakan keluarga, dan menebar kedamaian.


Ramadan mengajarkan bahwa kemenangan bukan hanya pada Idulfitri, tetapi pada kemampuan menundukkan ego. Maka mari menyambut Ramadan 1447 H dengan satu tekad: bersatu dalam perbedaan, saling mendoakan dalam kebaikan, dan berlomba dalam amal—karena di hadapan Allah, yang paling utama bukan siapa yang lebih dulu memulai, tetapi siapa yang paling sungguh-sungguh bertakwa dan memperbaiki diri.

Share This Article :

TAMBAHKAN KOMENTAR

3160458705819572409