BLANTERVIO103

Unismuh Sebagai Tuan Rumah Rukyat Hilal 1 Syawal 1447 H: Teladan Toleransi dan Solusi Efisiensi Anggaran Kemenag Sulsel

Unismuh Sebagai Tuan Rumah Rukyat Hilal 1 Syawal 1447 H: Teladan Toleransi dan Solusi Efisiensi Anggaran Kemenag Sulsel
Rabu, 18 Maret 2026

 


Dr. Mursyid Fikri, S.Pd.I.,MH

(Dosen Ilmu Falak Unismuh Makassar)


Kalaupun hasil rukyat hilal 1 Syawal 1447 H di Unismuh Makassar nanti berbeda dengan ketetapan Muhammadiyah, itu sama sekali bukan ironi. Justru di situlah letak kemuliaannya. Sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah, Unismuh menunjukkan bahwa perbedaan metode tidak harus melahirkan ketegangan, apalagi pertentangan. Perbedaan bisa dikelola dengan dewasa, ilmiah, dan penuh penghormatan. Di tengah ruang publik yang kerap gaduh oleh perbedaan kecil, Unismuh memberi pelajaran besar: prinsip boleh teguh, tetapi toleransi harus tetap utuh.


Sikap itu penting dicatat. Sebab, selama ini perbedaan antara pendekatan hisab yang menjadi pijakan Muhammadiyah dan pendekatan rukyat yang menjadi bagian dari mekanisme sidang isbat pemerintah sering dipersepsikan secara sempit, seolah-olah dua hal itu harus selalu dipertentangkan. Padahal tidak demikian. Ketika Unismuh bersedia menjadi tuan rumah pelaksanaan rukyat hilal bersama Kementerian Agama Sulawesi Selatan, kampus ini sedang menyampaikan pesan yang sangat jernih: perbedaan ijtihad bukan alasan untuk menutup ruang kerja sama. Sebaliknya, perbedaan justru bisa menjadi titik temu untuk membangun kemaslahatan yang lebih luas.


Di sinilah Unismuh tampil bukan hanya sebagai kampus, tetapi sebagai institusi yang menghadirkan teladan. Ia tidak larut dalam perdebatan simbolik, melainkan memilih memberi kontribusi nyata. Ia tidak sibuk mempertajam batas, melainkan membuka ruang kolaborasi. Ini adalah bentuk kedewasaan keumatan yang hari ini sangat dibutuhkan. Publik perlu melihat bahwa organisasi Islam, perguruan tinggi, dan pemerintah bisa duduk dalam satu meja kerja, meski bertolak dari metode yang berbeda. Itulah wajah Islam yang matang: kokoh dalam keyakinan, tetapi lapang dalam kebersamaan.


Namun, peran Unismuh sebagai tuan rumah rukyat hilal 1 Syawal 1447 H tidak berhenti pada pesan toleransi. Ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yakni efisiensi anggaran. Di tengah tuntutan agar belanja pemerintah semakin hemat, tepat guna, dan berdampak, kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti Unismuh merupakan pilihan yang cerdas. Negara tidak perlu menanggung seluruh beban teknis dan operasional dari awal bila sudah ada mitra yang memiliki fasilitas, ruang, dukungan sumber daya manusia, dan kesiapan kelembagaan.


Kementerian Agama Sulawesi Selatan tentu membutuhkan pelaksanaan rukyat yang sahih, tertib, dan kredibel. Tetapi itu tidak berarti semua harus dibangun dengan biaya besar. Ketika Unismuh menyediakan ruang, dukungan lokasi, jejaring akademik, dan suasana ilmiah, maka sebagian kebutuhan dasar pelaksanaan sudah terpenuhi. Pengeluaran untuk aspek teknis tertentu bisa ditekan, koordinasi menjadi lebih mudah, dan kegiatan dapat berjalan lebih efisien. Dalam bahasa sederhana: negara tetap hadir, tetapi tidak harus bekerja sendirian.


Inilah makna efisiensi yang sesungguhnya. Efisiensi bukan memangkas kualitas, melainkan menghindari pemborosan. Efisiensi bukan mengurangi wibawa negara, melainkan memperkuat hasil melalui kemitraan yang tepat. Ketika kampus dengan kapasitas yang memadai dilibatkan, anggaran pemerintah bisa difokuskan pada hal-hal yang benar-benar substansial: penguatan alat observasi, validasi data, koordinasi lintas lembaga, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Jadi, memilih Unismuh sebagai tuan rumah bukan sekadar opsi teknis, tetapi keputusan kebijakan yang rasional.


Lebih jauh, pelaksanaan rukyat di kampus juga membawa manfaat edukatif yang sangat besar. Rukyat hilal tidak lagi dipahami masyarakat sebagai kegiatan tertutup yang hanya diketahui segelintir orang. Ia menjadi peristiwa ilmiah yang bisa disaksikan, dipelajari, dan dipahami. Mahasiswa, dosen, dan publik dapat melihat langsung bahwa penentuan awal bulan Hijriah adalah proses yang memiliki dasar keilmuan, instrumen, metode, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, satu kegiatan menghasilkan banyak manfaat sekaligus: pelayanan keagamaan berjalan, literasi publik meningkat, dan budaya ilmiah tumbuh.


Unismuh karena itu sedang memainkan dua peran penting sekaligus. Pertama, sebagai rumah toleransi, karena bersedia membuka ruang rukyat meskipun potensi perbedaan hasil dengan keputusan internal Muhammadiyah tetap ada. Kedua, sebagai mitra strategis pemerintah, karena membantu menghadirkan model pelayanan keagamaan yang lebih hemat, efektif, dan bermutu. Ini bukan hal kecil. Dalam situasi ketika banyak institusi masih terjebak pada ego sektoral, Unismuh justru hadir dengan semangat kolaboratif.


Patut ditegaskan, keterlibatan Unismuh tidak boleh dibaca sebagai pengaburan identitas Muhammadiyah. Sebaliknya, inilah bukti bahwa identitas yang kuat justru melahirkan kepercayaan diri untuk bekerja sama. Hanya institusi yang matang yang mampu berdiri teguh pada prinsipnya sambil tetap menghormati proses pihak lain. Dan hanya institusi yang berpikir jauh ke depan yang memahami bahwa pengabdian kepada umat dan bangsa terkadang menuntut lebih dari sekadar konsistensi internal; ia menuntut keluasan pandang.


Karena itu, menjadikan Unismuh sebagai tuan rumah proses rukyat hilal 1 Syawal 1447 H layak diapresiasi sebagai langkah yang sarat makna. Ini adalah teladan toleransi di tengah perbedaan. Ini juga adalah solusi efisiensi anggaran bagi Kementerian Agama Sulawesi Selatan. Di satu sisi, umat mendapat contoh kedewasaan dalam menyikapi khilafiyah. Di sisi lain, pemerintah memperoleh model kemitraan yang sehat, hemat, dan produktif. Jika pola seperti ini terus dirawat, maka pelayanan keagamaan kita tidak hanya akan lebih tertib, tetapi juga lebih cerdas.


Pada akhirnya, hilal yang dicari bukan hanya penanda datangnya Syawal. Lebih dari itu, proses ini semestinya menjadi penanda hadirnya budaya baru dalam kehidupan keagamaan kita: berbeda tanpa bermusuhan, bekerja sama tanpa kehilangan jati diri, dan melayani umat tanpa memboroskan anggaran negara. Di titik itulah Unismuh memberi contoh yang layak dipuji.


terakhir jadi pantaskah yang lain menghina keputusan produk Ijtihad KHGT Muhammadiyah ? silahkan bertnya sesuai kontribusi masing-masing.(*)

Share This Article :

TAMBAHKAN KOMENTAR

3160458705819572409