Sidrap, lenteramerahnews.co.id — Suasana berbeda tampak di TK Negeri Pembina Baranti saat para murid antusias mengikuti praktik pembuatan makanan tradisional khas Bugis, Putu Pesse'.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal yang diterapkan sekolah untuk mengenalkan budaya daerah sejak usia dini.
Dengan penuh semangat, anak-anak terlibat langsung dalam proses pembuatan makanan tradisional tersebut, mulai dari mengenal bahan-bahan hingga melihat tahapan pengolahannya.
Kegiatan berlangsung interaktif dan menyenangkan karena peserta didik tidak hanya belajar melalui teori, tetapi juga praktik secara langsung.
Guru TK Negeri Pembina Baranti, Muliana Sulaiman, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari inovasi pembelajaran bertajuk “Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal melalui Pembuatan Makanan Tradisional Putu Pesse'.”
“Yang ingin dicapai adalah peserta didik mengenal makanan tradisional. Ini adalah salah satu bentuk pembelajaran yang dilakukan di sekolah dengan melibatkan langsung murid TK dalam proses pembuatan makanan tersebut,” ujar Muliana kepada pers, Rabu, 20/5.
Menurutnya, pembelajaran berbasis praktik seperti itu mampu meningkatkan rasa ingin tahu anak sekaligus memperkenalkan budaya lokal secara menyenangkan dan mudah dipahami.
Sementara itu, Kepala TK Negeri Pembina Baranti, Hj. Sutrawati, S.Pd.I., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai tidak hanya mengembangkan keterampilan peserta didik, tetapi juga menanamkan nilai budaya dan karakter.
“Melalui praktik pembuatan Putu Pesse', peserta didik belajar secara langsung tentang budaya lokal, kerja sama, tanggung jawab, ketelitian, dan kreativitas. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena anak-anak terlibat aktif dalam proses nyata yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi salah satu upaya pelestarian budaya lokal agar makanan tradisional tetap dikenal generasi muda di tengah berkembangnya makanan modern.
“Kami berharap kegiatan pembelajaran berbasis kearifan lokal seperti ini dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam menciptakan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, serta berakar pada budaya daerah,” tambahnya.
Pengawas sekolah, Hj. Nurlaelah, S.Pd., turut memberikan apresiasi terhadap inovasi pembelajaran tersebut. Menurutnya, kegiatan itu menunjukkan bahwa pembelajaran usia dini tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga mampu mengintegrasikan nilai budaya, sosial, dan keterampilan hidup.
“Kegiatan ini menunjukkan adanya keterlibatan aktif peserta didik, guru, dan orang tua dalam proses pembelajaran. Selain itu, penggunaan budaya lokal sebagai sumber belajar mampu menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan terhadap budaya daerah sendiri,” ungkapnya.
Ia menilai kegiatan tersebut juga sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam yang berfokus pada penguatan karakter peserta didik, seperti gotong royong, kreativitas, kemandirian, dan sikap berkebinekaan global.
Melalui kegiatan sederhana namun sarat makna itu, TK Negeri Pembina Baranti membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari ruang kelas dengan cara yang kreatif, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan anak-anak. (Wis)

Posted by 





Emoticon