Pasangkayu.Lenteramerahnews.co.id.
Kalimat yang kini viral di ruang maya, 'Guru disuruh mencerdaskan Bangsa, tapi Digaji Seolah Bukan Bagian dari Bangsa', tidak lebih dari cerminan kondisi nyata yang dialami ribuan guru di seluruh Indonesia.
Dari Sabang hingga Merauke, mereka menjalankan tugas mulia mendidik generasi muda dengan penuh dedikasi, namun harus berjuang keras bertahan hidup karena penghasilan yang tidak sebanding dengan kontribusi yang diberikan.
Gaji di Bawah Standar, Beban Tugas Bertumpuk
Sebagian besar guru honorer menerima upah bulanan antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta, angka yang jelas jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR) yang berlaku di hampir semua daerah di Indonesia. Bahkan bagi guru negeri yang sudah memiliki status tetap, penghasilan yang diterima seringkali belum cukup untuk menutupi kebutuhan dasar keluarga. Terutama seiring dengan kenaikan biaya hidup dari tahun ke tahun, termasuk biaya pendidikan anak dan pengobatan yang terus meningkat.
Tak hanya masalah finansial, beban tugas yang harus diemban guru juga terus bertambah seiring perkembangan sistem pendidikan nasional. Selain mengajar sesuai jadwal yang telah ditetapkan, mereka harus menyusun rencana pembelajaran yang komprehensif, melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap kemampuan siswa, melaksanakan kunjungan rumah untuk memantau perkembangan peserta didik di lingkungan keluarga, hingga mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan pengembangan kompetensi—yang seringkali dilakukan di luar jam kerja tanpa tambahan honor apapun.
Mengajar dengan Hati, Bertahan dengan Keterbatasan
Banyak guru menghadapi berbagai tantangan yang tak tercatat dalam jadwal mengajar. Di daerah pedesaan, sebagian harus menempuh perjalanan jauh dengan sarana transportasi yang terbatas—bahkan berjalan kaki beberapa kilometer setiap hari—hanya untuk sampai di sekolah. Di perkotaan, tidak sedikit yang harus mencari sumber penghasilan tambahan seperti mengajar les privat atau bekerja pada waktu luang, hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan membayar cicilan rumah atau kendaraan.
Bahkan bagi guru swasta yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana dan memiliki pengalaman mengajar bertahun-tahun, penghasilan yang diterima masih berada di bawah standar yang layak, dengan rata-rata sekitar Rp1,5 juta per bulan. Kondisi ini membuat mereka sulit untuk fokus sepenuhnya pada tugas utama mendidik siswa, karena pikiran sering teralihkan pada masalah keuangan.
Dedikasi Tak Pernah Surut
Meski menghadapi berbagai keterbatasan baik dari segi finansial maupun fasilitas sekolah, sebagian besar guru tetap menjalankan tugasnya dengan penuh semangat dan komitmen tinggi. Mereka dengan sabar membimbing setiap siswa sesuai dengan kemampuan masing-masing, memberikan bimbingan ekstra bagi peserta didik yang membutuhkan dukungan tambahan, dan terus berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran—meskipun sekolah yang mereka tempati hanya memiliki fasilitas dasar saja.
Banyak guru memilih profesi ini bukan karena alasan materi, melainkan karena memiliki tujuan mulia untuk membantu anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak dan membuka peluang masa depan yang lebih baik. Kepuasan terbesar mereka datang bukan dari penghasilan, melainkan ketika melihat siswa-siswa mampu membaca dan menulis dengan baik, memahami pelajaran yang diberikan, dan akhirnya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau memasuki dunia kerja dengan kompetensi yang memadai.
Harapan untuk Perubahan
Para guru menginginkan perhatian serius dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat terhadap kondisi mereka yang masih jauh dari ideal. Mereka berharap agar upah yang diterima dapat disesuaikan dengan beban kerja dan kontribusi yang diberikan bagi kemajuan pendidikan bangsa. Selain itu, juga diharapkan adanya jaminan sosial yang layak seperti fasilitas kesehatan yang memadai dan program pensiun yang jelas serta dapat diandalkan.
Profesi guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, yang mereka harapkan bukanlah penghargaan semata-mata dalam bentuk pujian atau julukan baik-baik belaka. Apa yang dibutuhkan adalah penghargaan yang nyata melalui peningkatan kesejahteraan, sehingga mereka dapat bekerja dengan tenang dan fokus pada tugas utama mendidik. Karena kondisi guru yang sehat secara fisik dan mental akan berdampak langsung pada kualitas pendidikan yang diberikan kepada siswa—sehingga tujuan utama mencerdaskan kehidupan bangsa benar-benar dapat terwujud.
Tulisan: MARNI, Mahasiswi STKIP Tomakaka Tiwikrama.

Posted by 

Emoticon